1.4.a.10.2 Aksi Nyata – Budaya Positif – Berbagi Aksi Nyata – Pedidikan Guru Penggerak
1.4.a.10.2 Aksi Nyata – Budaya Positif – Berbagi Aksi Nyata –
Pedidikan Guru Penggerak
Pada kali ini saya mencoba
membagikan aksi nyata sosialisasi menerapkan Budaya Positif di SDN 18 Muaradua
Kisam. Aksi nyata ini sebagai wujud berbagi pemahaman saya setelah mempelajari
modul 1.4 tentang Budaya Positif dan mengaitkan dengan materi dari beberapa
modul sebelumnya. Budaya Positif dalam pemahaman saya merupakan aksi baik yang
dilakukan secara sadar dan terencana untuk membangun kebiasaan baik. Dalam
sebuah lingkungan pendidikan seperti SDN 18 Muaradua Kisam, menerapkan Budaya
Positif merupakan tugas dari semua warga sekolah diantaranya Siswa dan Guru.
Oleh karena itu perlu ada pemahaman bersama lalu membuat usaha - usaha secara
sadar dan terencana untuk menerapkan Budaya Positif SDN 18 Muaradua Kisam.
Pada kegiatan memberikan pemahaman bersama
tentang menerapkan Budaya Positif di SDN 18 Muaradua Kisam, saya menyampaikan
poin - poin penting materi sebagai berikut ;
Modul
1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara
1.
Pengertian
Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara (KHD)
membedakan kata Pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan tujuan
Pendidikan.
Ø
Pendidikan merupakan pemberian tuntunan terhadap
segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik seorang manusia maupun sebagai
anggota masyarakat
Ø
Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam
memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan
batin.
Ø
Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha
persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam
hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya (
KHD, 2009 )
Ø
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih
kebudayaan dalam masyarakat
Ø
KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan
manusia Indonesia yang beradab maka Pendidikan menjadi salah satu kunci utama
untuk mencapainya.
Ø
Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan
bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan
2.
Dasar-Dasar
Pendidikan
Ø Menuntun
tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat
memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak
Ø Dalam
menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik
seperti seorang petani dalam mengelola sebuah kebun.
Ø Pendidikan
berorientasi kepada anak. Dalam
pendidikan, seorang pendidik harus menyesuaikan pembelajaran, cara memberikan
pelajaran, metoda dan memperlakukan peserta didik sesuai dengan profil peserta didiknya yang
telah didiagnosis sejak awal. Sesuai dengan kebutuhannya dan lingkungan yang
nenyertainya supaya pendidikan dan pengajaran lebih bemakna sesuai dengan
konteks.
Ø Pendidikan
dengan Filosofi Bermain .
Bermain yang bermakna merupakan aktivitas terpadu yang ada pada setiap
tumbuh kembang anak. Bermain melatih kreatif, kebersamaan, keseimbangan
motorik, keseimbangan emosional, menerima, menghargai , sportifitas. Olah raga,
olah rasa, olah karsa terdapat dalam permainan anak-anak.
Ø Pendidikan
itu untuk menumbuh kembangkan budi pekerti
Penumbuhan budi pekerti adalah hal mutlak dalam pendidikan. Bersatunya budi
(kekuatan pikiran, halusnya perasaan dan
kuatnya kehendak/kemauan) sehingga menjadi Pekerti (tenaga/kekuatan).
3.
Kodrat
Alam dan Kodrat Zaman
KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat
alam dan kodrat zaman.
Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan dimana anak
berada.
Kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”
KHD mengingatkan kepada pendidik bahwa Pendidikan anak sejatinya melihat
kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman
4.
Budi
Pekerti
Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan
antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan
tenaga
Budi pekerti juga dapat diartikan Budi teridri ada 3 koponen, cipta
(pikiran), rasa (perasaan), dan karsa( kemauan). Pekerti atau Raga/Tenaga.
Dimana dalam melakukan perubahan harus seimbang secara holistik
5.
Peran
Keluarga dan,
KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk
melatih Pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak.
Keluarga merupakan tempat bersemainya Pendidikan yang sempurna bagi anak
untuk melatih kecerdasan budi pekerti (pembentuakn watak individual).
Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup anak dalam
bermasyarakat dibanding dengan pusat Pendidikan lainnya.
6.
Trilogi
Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Ing ngarsa sung tulada,
berarti ketika guru berada di depan, seorang guru harus memberi teladan atau contoh
dengan tindakan yang baik
Ing madya mangun karsa pada
saat di antara pesetra didik, guru harus menciptakan prakarsa dan ide
Tut wuri handayani,
dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Modul 1.4 Budaya Positif terdiri dari materi :
2.
Konsep Disiplin Positif dan Motivasi
3.
Keyakinan Kelas
4.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
5.
Posisi Kontrol
6.
Segitiga Restitusi
Penjabaran dari materi tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Perubahan Paradigma
Adalah perubahan cara pandang kita terhadap segala sesuatu
berdasarkan berbagai pertimbangan sudut pandang.
Misal ;
|
Realitas (kebutuhan) kita sama. |
Padahal ... |
Realitas (kebutuhan) kita berbeda. |
|
Semua orang melihat hal yang sama. |
Padahal ... |
Setiap orang memiliki gambaran berbeda. |
|
Kita mencoba mengubah orang agar berpandangan sama dengan
kita. |
Padahal ... |
Kita berusaha memahami pandangan orang lain tentangdunia. |
|
Perilaku buruk dilihat sebagai suatu kesalahan. |
Padahal ... |
Semua perilaku memiliki tujuan. |
|
Orang lain bisa mengontrol saya. |
Padahal ... |
Hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda. |
|
Saya bisa mengontrol orang lain. |
Padahal ... |
Anda tidak bisa mengontrol oranglain. |
|
Pemaksaan ada pada saat bujukan gagal. |
Padahal ... |
Kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru. |
|
Model Berpikir Menang/Kalah. |
Padahal ... |
Model Berpikir Menang-menang. |
2. Konsep Disiplin Positif dan Motivasi
Disiplin diri dapat membuat
seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang
dihargai dan bermakna. Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari
bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk
memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.
Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri
berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena
mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Mengapa kita melakukan segala sesuatu ? Apakah kita
melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan
yang lain ? Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa
sakit atau ketidaknyamanan, Terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk
mendapatkan apa yang kita mau. Bagaimana menurut Anda ? Pernahkah Anda
melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman dari orang lain ? Untuk mendapat
hadiah ? Atau untuk mendapatkan uang ? Apa lagi kira-kira alasan orang
melakukan sesuatu ?
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline,
menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia :
1.
Untuk menghindari ketidaknyamanan atau
hukuman.
2.
Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang
lain.
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
3. Keyakinan Kelas
Mengapa keyakinan kelas, mengapa tidak peraturan kelas saja
?
“Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan masker
dan mencuci tangan setiap saat ?” Mungkin jawaban Anda adalah “untuk kesehatan
dan/atau keselamatan”.
Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita
sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau
prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari
latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama.
Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi
seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih
tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar
mengikuti serangkaian peraturan.
4. Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Seluruh tindakan manusia memiliki
tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk
mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita
inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu
kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta
dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun),
dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang
bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu
sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.
5. Posisi Kontrol
Penghukum: Seorang penghukum bisa
menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi
penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang
dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan
posisi penghukum akan berkata :
“Patuhi aturan saya, atau awas!”
“Kamu selalu saja salah!”
Pembuat Orang Merasa Bersalah : pada posisi ini biasanya
guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan menggunakan
keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah
diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti :
“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”
“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”
Teman : Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti
murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi
teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan
baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan
hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata :
“Ayo bantulah, demi bapak ya?”
“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.
Monitor/Pemantau : Memonitor berarti mengawasi. Pada saat
kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita
awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi.
Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi
kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau.
Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau :
“Peraturannya apa?”
“Apa yang telah kamu lakukan?”
Manajer : Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi mentor di
mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid
mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi
atas permasalahannya sendiri.
6.
Segitiga Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan
kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa
kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Melalui
restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang
memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat
mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga
dirinya.
Alur restitusi :
Menstabilkan identitas.
Validasi tindakan yang salah.
Menanyakan keyakinan.
Berikut Link Video Kegiatannya
https://youtu.be/r6-sUeiHRhk
Salam dan Bahagia
Guru Bergerak Indonesia Maju
Komentar
Posting Komentar